KUNCI SUKSES TRANSFORMASI KELOMPOK TANI DAN GABUNGAN KELOMPOK TANI MENJADI KORPORASI

BAHAN BACAAN TAMBAHAN/ BAHAN AJAR

DIKLAT PENYEGARAN PENYULUH IPDMIP

2021

 KUNCI SUKSES TRANSFORMASI KELOMPOK TANI DAN GABUNGAN KELOMPOK TANI MENJADI KORPORASI

Oleh Ahmad Suryanto

(Widyaiwara Balai Pelatihan Pertanian Lampung

Kelompok tani (Poktan) dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) sudah berjalan sekian lama, tapi perkembangannya begitu-begitu saja. Hanya bersifat paguyuban. Jargonnya Poktan/ Gapoktani itu adalah wahana belajar, kejasama antar petani dalam usaha taninya. Tapi dalam kenyataannya itu semua masih terbatas:

  1. Wahana belajar (masih sekedar penyuluhan yang terbatas),
  2. Wahana kerjasama, tapi baru sebatas keperluan pengajuan RDKK, pengajuan proposal bantuan pemerintah, dll. Yang selangkah lebih maju, di beberapa tempat, Poktan/ Ga[oktan bisa jadi saranan kerjasama penanggulan hama dan penyakit tanaman secara massal, misalnya dalam penanggulangan hama tikus melalui gerakan Gropyokan.

Pada umumnya aspek bisnis belum berkembang di Kelompok Tani/ Gabungan kelompok tani.

Idealnya, jika melihat penumbuhan dan pengembangan yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam, Poktan dan Gapoktan ini semestinya sudah bisa bertransformasi menjadi lembaga bisnis yang maju. Hal ini mengingat bahwa dalam aktifitas sehari-hari transaksi bisnis yang terjadi di seputar petani sebagai basis anggota Poktan/Gapoktan cukup besar.  “Kue” transaksi itu umumnya masih dinikmati di luar para petani itu sendiri. Sebagai contoh, dari pengadaan benih padi saja, misalnya varietas Ciherang, dari pengalanan sebuah Poktan di Lampung Tengah, jika pembelian dilakukan dalam jumlah besar, selisih harga yang bisa dihemat per kemasan (5 kg) bisa mencapai Rp 20 ribu. Padahal setiap hektar petani setidaknya membutuhkan 5 kemasan (25 kg). Ada penghematan biaya produksi Rp 100 ribu per hektar dari pembelian benih jika petani bisa melakukan pembelian serentak melalui kelompok. Itu baru benih. Belum lagi dari sarana produksi lain (pupuk, pestisida dll), dan yang lebih besar lagi transaksinya adalah transaksi penjulan hasil panen. Jika potensi bisnis itu bisa dikelola secara profesional, berkelompok, dan dalam jumlah besar maka akan banyak keuntungan yang bisa dinikmati petani, melalui kelompok tani/ gabungan kelompok tani.

Yang menikmati keuntungan bisnis selama ini adalah para pedagang yang secara posisi mereka di luar lingkaran para petani.

Itu semua semestinya dilirik oleh para pengurus poktan dan gapoktan sebagai peluang untuk meingkatkan kesejahteraan bersama para petani anggota. Namun untuk bisa sampai ke sana, ada hal mendasar yang harus diselesaikan secara internal poktan dan gapoktan. Hal mendasar yang penulis maksudkan adalah mengenai manjemen dan kepemimpinn Poktan/ Gapoktan.

Manajemen dan kepemimpinan Poktan/Gapoktan haruslah berorientasi pada visi yang jelas. Orientasi yang dimaksud haruslah mengarah pada pola kewirausahaan sosial (social interpreneur). Dari pengamatan penulis selama sekian kurun waktu, hanya poktan/ gapoktan yang dipimpin dengan orientasi kewirausahaan sosial sebagai visi agribisnisnya saja yang selama ini mampu bertahan menghadapi ujian dan bisa mencapai kemajuan menggapai kesejahteran anggota secaraa bersama-sama.

Jika hal mendasar ini telah selesai, maka arah pengembangan usaha bersama dalam poktan/ gapoktan akan berlangsung terus meski menghadapi berbagai ujian. Inilah yang bisa kita amati dari berbagai kelompok tani/ gapoktan yang selama ini telah muncul ke permukaan sebagai kelembagaan usaha bersama yang sukses.

Setelah persoalan mendasar di dalam internal poktan/gapoktan selesai, yaitu mengenai kepemipinan agrbisnis beroreintasi sosial, maka selanjutnya persoalan teknis akan menjadi lebih mudah. Namun demikian, upaya maksimal harus dilakukan, setidaknya pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Ada arah bisnis yang fokus dan jelas.
  2. Adanya perencanaan yang baik. Ada target yang dituju dan peta jalan untuk mencapainya, ada target waktu dan tahapannya
  3. Ada pembagian tugas yang jelas atau manajemen kelompok tani/ gapoktan yang jelas, siapa mengerjakan apa.

Contoh sukses Duta Petani Milenial produsesn beras kemasan Berasera, asal Lampung Tengah, Sukarlin, menggambarkan bagaimana kepemimipnan agribisnis yang bersifat sosial dan memberdayakan anggota serat sistem manajemen yang baik. Demikian juga jika kita kaji secara mendalam bagaimana Riza Azzumardi Azra di Banjar Negara, Jawa Tangah, mendirikan dan mengelola Rumah Mocaf, dengan pasar yang . Semua itu menggambarkan bagaimana kelompok bisa eksis secara bisnis dengan memberdayakan anggotanya.

Hanya saja, jika melihat kelompok Tani/ Gapoktan yang sudah eksis dengan keadaan yang ada sekarang, case-nya memang berbeda dengan apa yang sudah dikerjakan oleh para petani muda sukses tersebut. Jika kelompok tani/ Gapoktan ini sudah bisa menyelesaikan persoalan kepemimpinan di internal dengan baik, maka langkah berikutnya tinggal mengikuti atau menduplikasi apa yang sudah dikerjakan oleh orang-orag sukses terdahulu dalam mengelola kelompoknya menuju kemajuan bersama.

Jika persoalan kepemimpinan sudah selesai, maka rangkaian pekerjaan besar untuk mewujudkan Korporasi petani yang tangguh, setidaknya bisa dilihat dari gambaran di atas, mulai: 1) Konsolidasi petani (anggota dan pengurus), 2) Permoadalan, 3) Infrastrukur, 4) Sarana pertanian (alat mesin pertanian dll), 5) Mengelola mitra industri pengolahan dan perdagangan modern, 6) asuransi, dll..

Untuk mampu mengerjakan pekerjaan besar di atas, maka yang harus benar-benar dipahami dan diukur adalah sebesar apa kemampuan yang dimiliki sekarang, dan kira-kira kemampuan apa yang bisa mendukung target yang akan dibuat. Intinya adalah bagaimana membuat perencanaan efektif atas visi-misi yang akan diwujudkan di kelompok/ Gapoktan yang bersangkuatan.****