Buah naga (Hylocereus sp.) atau dragon fruit merupakan tanaman jenis kaktus yang umumnya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Pada iklim tersebut tanaman buah naga dapat tumbuh dengan baik sehingga mudah untuk dibudi dayakan. Sebagaimana tanaman kaktus lainnya, buah naga merupakan tanaman yang mampu bertahan pada daerah kering dan harus cukup paparan sinar matahari (Emil, 2011).

Tampaknya kemudahan budi daya dan adaptasi yang tinggi menyebabkan tanaman ini mudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Saat ini, buah naga telah dibudidayakan sekurang-kurangnya di 22 negara tropis termasuk Indonesia (Warisno dan Dahana, 2010). Negara-negara produsen besar buah naga antara lain Vietnam, Thailand, Malaysia, Israel, Australia, Indonesia, China, Taiwan, Jepang, Colombia, Costa Rica, dan beberapa negara lainnya (Emil, 2011).

Hardjadinata (2012) menyatakan buah naga memiliki banyak manfaat, antara lain menurunkan kolestrol, menyeimbangkan kadar gula darah, pencegah kanker, pelindung kesehatan mulut, mencegah kanker usus, menguatkan fungsi ginjal dan lain sebagainya. Beberapa kandungan buah naga yang penting bagi kesehatan antara lain vitamin C, kalsium, posfor, serta serat (Andoko dan Nurrasyid, 2012). Selain itu, setiap 100 gram daging buah naga mengandung 90 % air, karbohidrat 11,5 g, asam 0,139 g, protein 0,53 g, serat 0,71 %, kalsium 134,5 mg, posfor 8,7 mg, magnesium 60,4 mg, dan vitamin C 9,4 mg (Yuliarti, 2012). Tanaman buah naga mempunyai klasifikasi botani sebagai berikut : Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Cactales, Famili : Cactaceae, Subfamili : Hylocereanea, Genus : Hylocereus, Spesies : Hylocereus sp. dan Selenicereus sp. (Andoko dan Nurrasyid, 2012). Secara morfologi, tanaman ini termasuk tanaman yang tidak lengkap karena tidak memiliki daun. Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, bunga, buah, dan biji (Emil, 2010).