INOVASI TEKNOLOGI FRONTIER DAN  TRANSFORMASI DIGITAL 4.0 UNTUK PERTANIAN INDONESIA MASA DEPAN

Septiana, S.P., M.P

Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Lampung-BPPSDM Kementan

Email : sevtie182020@gmail.com

Selama manusia tetap makan, maka selama itu pula pertanian terutama pangan tetap dibutuhkan. Dengan menggunakan teori  Robert Malthus yang dicetuskan pada abad ke-17 an, telah terbukti dimana “laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung”, yang artinya laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan. Bila dilihat dari rumus eksponensial, apabila laju Pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1 persen saja, maka penduduk akan menjadi dua kali lipat atau “double population”, akan terjadi dalam kurun waktu 70 tahun. Dari simulasi diatas, ini berarti apabila sekarang jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa, maka pada tahun 2090-an  akan menjadi 500 juta jiwa.

Dalam jangka panjang, dampak yang akan timbul adalah manusia akan mengalami krisis sumber daya alam dan berebut untuk mendapatkan pangan.  Indonesia sebagai negara agraris, cukup ironis karena ketergantungan bahan pangan kepada negara lain cukup tinggi.   Beras, jagung,  kedelai, tepung terigu, gula pasir, garam, bawang, daging sapi, daging ayam masih impor. Antara tahun 2005 – 2015 saja, impor produk pertanian meningkat 4 (empat) kali lipat (BPS, 2019). Peningkatan jumlah import pangan yang tinggi  ini berarti menguras cadangan devisa juga bisa menimbulkan dampak melumpuhkan ketahanan nasional dan mengganggu stabilitas sosial, ekonomi serta politik, karena ketahanan pangan dan kedaulatan pangan berpengaruh langsung pada kesejahteraan rakyat (Rasahan, 1999).

Persaingan dengan kepentingan lain, seperti  “Food dengan feed”, persaingan pemanfaatan air, persaingan kebutuhan lahan sehingga mengakibatkan konversi lahan pertanian termasuk yang beririgasi teknis, terus berlanjut dan semakin tajam. Sementara itu, perubahan iklim, degradasi kualitas lahan, berkembangnya hama dan penyakit tanaman, rendahnya produktivitas, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia pertanian juga merupakan tantangan yang harus diselesaikan.

Untuk menjawab tantangan diatas,  kata yang paling tepat untuk menyelesaikannya adalah dengan “teknologi” yang betul-betul dapat  bermanfaat  bagi masyarakat.  Mengacu  kepada  negara-negara  maju  dalam  ilmu  pengetahuan,  ternyata maju juga dalam teknologi pertaniannya.  Beberapa negara Eropa telah mensepakati bahwa   Pertanian 4.0 sebagai  arah industri pertanian ke depan dengan  agenda utamanya adalah transformasi digital di sektor pertanian yang mengerucut pada pertanian pintar (smart farming), termasuk didalamnya smart city agriculture dengan memanfaatkan  cyber city  sehingga dapat mengacu pada pertanian terukur (precision farming) serta bioteknologi (gene editig) (Fatchiya A, Siti A, Yatri, 2016).

Ruang lingkup dari pertanian 4.0 adalah  semua aktivitas pertanian, mulai dari proses produksi sampai pada pemasaran hasilnya. Tujuannya adalah   untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, berkelanjutan dan tentu untuk mensejahterakan petani  juga masyarakat secara keseluruhan. Teknologi yang dibutuhkan saat ini adalah “Teknologi Frontier” yang secara umum disebutkan sebagai: “the next phase in the evolution of modern technology. Frontier technology is the intersection where radical forward thinking and real-world implementation meet”. Menarik untuk digaris bawahi bahwa teknologi tersebut haruslah  “radical word  thinking  and  real-world  implementation  meet”,  yang  artinya  adalah  cara berfikir untuk menghasilkan teknologi harus bersifat “revolusioner”  yang betul-betul dapat  bermanfaat  bagi masyarakat.  Teknologi Frontier pertanian 4.0 yang saat ini dapat dikembangkan secara revolusioner dan “canggih” seperti big data analitis, artificial intelligence (AI), teknologi robotic dan sensor, drone, blockchain, artificial intelligent, maupun IoT (internet of things) (Andi Suwardi, 2019).

Penggunaan teknologi frontier ini dapat mulai dari aspek yang terkait dengan tanamannya sendiri (termasuk rekayasa genetika), lahan, air, iklim, hama, proses pengolahan, perawatan, panen, pasca   panen,   pasar,   pemasaran,   perdagangan,  harga  dsb.   Dengan  kehadiran teknologi digital, kesemuanya bisa diprogramkan dengan tingkat akurasi tinggi, hasilnya dapat diprediksi dan diantisipasi misalnya dengan menggunakan dron pemetaan wilayah pertanian, sensor program pengairan yang keseluruhannya dikendalikan dengan menggunakan internet of thing.

Ada beberapa hal  berkaitan dengan teknologi 4.0 dalam dunia pertanian, pertama; bila disandingkan dengan  luar negeri, penggunaan teknologi pertanian 4.0 ini bisa lebih efektif karena lahan usaha taninya luas, atau  yang sudah umum melakukannya adalah perusahaan-perusahaan pertanian. Karena lingkupnya yang luas, oprasionalisasi dari teknologi ini juga sangat luas dan tidak semuanya bisa dioprasionalkan oleh petani. Sebagai contoh, pemanfaatan GPS untuk mengetahui lokasi daerah produksi pertanian/pemetaan lahan,   status kepemilikan lahan, prediksi hasil panen, prediksi harga, prediksi serangan hama itu merupakan  bagian-bagian yang  harus  dilakukan  oleh pemerintah.

Kedua; siapakah yang akan menghasilkan teknologi tersebut? Untuk kepentingan yang bersifat fasilitasi   maka pemerintahlah yang harus menyiapkan teknologi ini. Dewasa ini, memang sudah banyak lembaga swasta yang memproduksi teknologi dimaksud. Hanya saja, apabila swasta, tentu orientasinya adalah keuntungan. Bagi para petani, penggunaan teknologi  ini akan menjadi tambahan biaya  produksi.  Karena  itu,  diperlukan  perhitungan  ekonomi,  dalam  pengertian bahwa dengan bantuan teknologi, petani akan jauh  lebih sejahtera. Demikian pula para konsumen, harus juga lebih diuntungkan, misalnya lebih terjamin kualitas dan harganya. Pemerintah juga perlu mendorong inovasi terukur dalam hal regulasi dan pajak sembari secara aktif mendukung model bisnis yang lebih bermanfaat bagi petani.

Ketiga; sumber informasi. Karena teknologi ini bisa menyebar ke dunia tanpa batas, apakah bisa dikontrol akurasinya?  Selama ini, dunia  media  sosial ditandai dengan  merebaknya  “hoax“.  Karena  informasi  yang  berkaitan  langsung  dengan dunia pertanian belum besar, maka hoax dalam bidang pertanian belum sebesar hoax untuk bidang lain. Tapi apabila itu terjadi dampaknya akan besar. Untuk itu, diperlukan lembaga yang bisa melakukan pengontrolan terhadap “teknologi” yang disebarkan. Sumber-sumber pengetahuan dan teknologi, seperti Whatsapp, Wechat, Facebook, Instagram, dan Twitter, Youtube, dan lain sebagainya.

Keempat; Peluang yang bisa didapatkan dengan inovasi teknologi secara frontier di era revolusi 4.0 dalam bidang pertanian berupa kemajuan dalam analisis data, bioteknologi dan informasi komunikasi meningkatkan hasil pertanian dan penyaluran logistik yang lebih efisien dalam menghantarkan produk pertanian ke pasar. Selain itu inovasi teknologi yang berkembang juga dapat dimanfaatkan dalam menghubungkan sektor informal ke sektor ekonomi formal berupa platform digital untuk berbagai layanan yang kini sudah bisa  dilakukan  di tingkat  petani, seperti TaniHub dan Sayurbox dalam bidang E-Commerce (jual beli), PanenID dalam Direct trading (penjualan langsung), iGrow yang mengaitkan antara investor pertanian dengan petani dan   Teknologi   Question   & Answer. Teknologi lainnya, banyak yang lebih cocok (dan diantaranya sudah diaplikasikan) di perusahaan-perusahaan “besar” pertanian.

Secara kemampuan, masyarakat Indonesia pasti siap dengan penciptaan dan pemanfaatan transformasi digital dan inovasi teknologi frontier ini, dimana sebagian besar masyarakat  tersebut sudah berubah mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepet berkembang. Perubahan mindset ini harus segera di anulir pada semua lini sumber daya manusia pertanian yang menjadi faktor penentu keberhasilan dunia pertanian dalam menghasilkan pangan dunia.

Untuk menganulir perubahan mindset dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, khususnya generasi muda pertanian yang diharapkan dapat menjadi pelaku utama dalam dunia pertanian serta dapat memiliki posisi tawar, Badan Penyuluhan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementrian Pertanian melalui UPT Balai Pelatihan Pertanian Lampung melaksanakan Pelatihan Presisi Smart Greenhouse-Low Cost di danai dari Proyek IPDMP yang diperuntukan bagi petani muda yang ada di daerah proyek IPDMIP di Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Tengah, Pesawaran dan Tanggamus. Pelatihan ini mengajarkan tentang penggunaan dan pamanfaatan IoT pada lahan pertanian dimana untuk alat serta bahan yang digunakan identik cukup murah, terjangkau serta mudah didapatkan oleh petani. Pada Pelatihan Presisi Smart Greenhouse-Low Cost IoT dimanfaatkan untuk mengontrol suhu, kelembaban, cahaya serta pengairan bagi budidaya tanaman yang dapat dikontrol melalui smartphone.

 

Foto-Foto Kegiatan Pelatihan Presisi Smart Greenhouse-Low Cost di Balai Pelatihan Pertanian Lampung

Dalam bidang pertanian, jangan sampai teknologi ini hanya dikuasai oleh segelintir orang, sebagai   contoh;   kalaupun produktifitas tinggi, pasar dan harga sudah transparan seperti sekarang ini, namun nyatanya  masih  banyak  petani  yang  tidak  bisa  menikmatinya.  Bisa  jadi,  ada kekuatan-kekuatan lain yang bermain yang mungkin juga termasuk yang lebih memanfaatkan  kecanggihan  teknologi  untuk  kepentingan  mereka.  Ketidak berpihakan  ini termasuk dalam  bentuk  kebijakan  terhadap  para  petani  yang walaupun sudah berteknologi tinggi namun tidak mempunyai bargaining position atau  posisi tawar terhadap kekuatan-kekuatan di luarnya, akan tetap saja membuat mereka terpuruk, dan inilah yang masih menjadi pe er besar bagi pemerintah. Sistem pengalihan teknologi dari tradisional menjadi modern dalam pengelolaan pertanian belum mampu diterima secara luas oleh para petani yang masih banyak memilih menggunakan peralatan tradisional dibanding peralatan teknologi canggih (Roger, 2003). Selain karena keterbatasan biaya, keterbatasan pengetahuan juga menjadi faktor yang menghambat laju teknologi untuk merambah sektor pertanian secara luas.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  

Andi Suwardi. 2019. Era Transformasi Digital dan Sumber Daya Manusia. Kompasiana. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2019. Persentase Tenaga Kerja Informal Sektor Pertanian 2015-2018. BPS. Jakarta.

Fatchiya Anna, Siti Amanah, Yatri IK. 2016. Penerapan Inovasi Teknologi Pertanian dan Hubungannya dengan Keetahanan Pangan Rumah Tangga Petani. Jurnal Penyuluhan, September 2016 Vol.12 No.2. 24/9/2019

Rasahan, CA. 1999. Kebijakan Pembangunan Pertanian Untuk Mencapai Ketahanan Pangan Berkelanjutan. Dalam: Tonggak Kemajuan Teknologi ProduksiTanaman Pangan. Konsep dan Strategi Peningkatan Produksi Pangan. Puslitbang Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Hal 1-11.

Rogers EM. 2003. Diffusion of Innovations. Fifth Edition.The Free Press. A Division of Simon & Schuster, Inc. 1230 Avenue of The Americas New York. NY 10020.