Visi :

Bandar Lampung – Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian, adalah peningkatkan kompetensi petani dan penyuluh pertanian sebagai garda terdepan pembangunan pertanian.

Melalui kunjungan kerja, Jum’at (21/01/2022), Kementerian Pertanian memberikan dukungan dan motivasi kepada penyuluh pertanian Kabupaten Lampung Selatan.

Kunjungan kerja Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang didampingi oleh Kepala Balai Pelatihan Pertanian Lampung dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan,

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan peningkatan SDM pertanian harus dilakukan.

“Jika kita ingin meningkatkan produktivitas atau mengembangkan pertanian, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengembangkan dahulu kualitas SDM. Hal itu bisa dilakukan melalui peningkatan kompetensi petani dan penyuluh pertanian terutama dalam memanfaatkan teknologi informasi pertanian,” katanya.

Pada kunjungan ini, Kepala Badan PPSDMP yan didampingi oleh Kepala Balai Pelatihan Pertanian Lampung, disambut sukacita oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan, Kepala Bidang Penyuluhan, Koordinator Penyuluh dan Kepala UPT, Penyuluh dan petani yang berada di Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan, Bibit Purwanto, menyampaikan ucapan terimakasih atas perhatian Kementerian Pertanian, terutama atas bantuan rehabilitasi bangunan kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sidomulyo.

“Kami ucapkan banyak terimakasih kepada Kementerian Pertanian atas perhatiannya, sehingga Rehab bangunan kantor BPP Sidomulyo dapat diselesaikan dengan sangat baik. Alhamdulillah kami dapat kembali menggunakan BPP ini dengan aman dan nyaman. Mudah- mudahan kami dapat memberikan pelayanan penyuluhan yang optimal dalam rangka mendukung pembangunan pertanian” demikian sambutan Bibit sebelum arahan dari Kepala BPPSDMP.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi nampak senang sekali dapat bertemu dan berdialog dengan para petani dan penyuluh pertanian kecamatan Sidomulyo dan sekitarnya.

“Saya sangat senang sekali, dapat bertemu dengan para petani dan penyuluh pertanian sekalian. Terlebih lagi pertemuan ini dilaksanakan di BPP Sidmulyo yang keadaannya sudah sangat baik setelah dilakukan renovasi” demikian Dedi membuka pembicaraan.

Dalam arahannya, Dedi menyampaikan bahwa pertanian pembangunan pertanian kuncinya ada di SDM-nya. Bukan pupuk, bukan alsintan, bukan irigasi, bukan bibit, melainkan sumber daya manusia pertanian yang berkompetensi, yang tangguh, yang mampu memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan produktivitas usahataninya.

“Negara Indonesia maju diawali dengan majunya sektor pertanian yang menjamin ketersediaan pangan bagi penduduknya. Kenapa negara-negara subtropis dapat mengekspor bahan makanan? termasuk ke Indonesia? Padahal mereka tidak mempunyai kecukupan sinarmatahri yang merupakan syarat wajib untuk tanaman dapat tumbuh dengan baik? Jawabannya, karena mereka mempunyai sumber daya manusia yang mampu mengelola keterbatasan keadaan iklim, sehingga mereka dapat menumbuhkan tanaman sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut! Begitu Saudara- Saudaraku sekalian pentingnya peningkatan kualitas SDM Pertanian!” tegas Dedi Nursyamsi.

Dedi juga menyampaikan petani dan penyuluh pertanian sekarang harus mampu memanfaatkan dan menerapkan teknologi pertanian. Solusinya untuk pertanian maju adalah smart farming. Bertani dengan penggunaan teknologi dan Internet of Things.

Pada kesempatan ini pula, Kepala BPPSDMP yang saat itu mengenakan tukkus, yaitu penutup kepala khas Lampung, juga menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian memiliki beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) salah satunya adalah Balai Pelatihan Pertanian Lampung.

Balai Pelatihan Pertanian Lampung merupakan UPT dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian yang memiliki tugas da fungsi untuk menyelenggarakan pelatihan fungsional dan pelatihan teknis di bidang pertanian khususnya tanaman pangan dan hortikultura dataran rendah.

“Para Petani dan Penyuluh dapat belajar tentang Smart Farming dan Penggunaan IoT di Balai Pelatihan Pertanian Lampung!” demikian Dedi Nursyamsi menutup pembicaraannya. (Ags/Sft).

Masalah klise yang ditemui petani padi pada saat musim tanam padi saat ini adalah langkanya tenaga tanam yang biasanya didominasi ibu ibu. Tidak mengherankan karena memang tenaga kerja tani saat ini  mulai langka dan anak mudanya banyak yang memilih untuk tidak bertani dengan alasan yang beragam.

Saat ini sebenarnya, bahkan dari dahulu sudah ada alat tanam padi, namun karena “kebiasaan” dengan alasan sosial, maka penggunaan alat tanam padi atau rice transplanter masih terbatas pada petani “modern”.  Bahkan petani tersebut terpaksa menggunakan alat tanam, karena tenaga kerja yang mulai terbatas.

Tulisan ini mencoba menginformasikan tentang rice transplaner itu sendiri mulai dari pengertian, manfaat  rice transplanter, cara mengoperasikan sampai dengan bagian bagian yang ada pada rice transplanter, dan satu lagi yaitu cara membuat persemaian untuk menanam dengan rice transplanter.

Untuk menanam dengan rice tranplanter memang di butuhkan persyaratan bibit maupun persyaratan sawah. Untuk bibit haruslah yang baik dan ketika disemai dapat tumbuh seragam. Sedangkan untuk sawah, menanam padi dengan rice transplanter haruslah sawah sudah terolah sempurna mulai dari pembajakan sampai dengan siap ditanam.

Pengertian Rice Transplanter

Rice Transplanter adalah alat penanam padi yang dipergunakan untuk menanam benih padi yang sudah disemai pada areal khusus dengan umur tertentu sampai dengan kondisi siap tanam. Rice Transplanter adalah mesin yang bekerja pada lahan berlumpur. Rice transplanter berfungsi sebagai alat bantu dalam menanam benih padi yang telah disemai. Dapat juga dikatakan alat ini sebagai alat pengganti tenaga manusia dalam menanam padi yang saat ini sudah semakin terbatas.

Adapun bagian bagian dari mesin tanam padi ini adalah sebagi berikut:

  1. Travelling Device

Bagian ini berfungsi untuk menggerakkan Transplanter ke depan dan belakang, bagian ini terdiri dari unit roda

  1. Feeding Device, Bagian ini terdiri dari :
    1. Seedling Tray, berfungsi sebagai tempat meletakkan persemaian yang akan ditanam.
    2. Seedling stopper, berfungsi sebagai alat penahan persemaian yang terdapat pada seedling tray.
    3. Seedling feeding pawl, untuk menggerakkan seedling tray ke kanan dan ke kiri agar pengambilan persemaian rata.
  2. Planting Device, bagian ini terdiri dari
    1. Planting Arm berfungsi mengerakkan garpu penanam atau planting fork.
    2. Planting fork sebagai alat pengambil bibit persemaian dari seedling tray.
  3. Operating Device
  4. Tuas Gas, untuk menaikkan putaran mesin
  5. Handling Kopling
  6. Versneling
  7. Tuas Hidrolik
  8. Saklar On – Off
  9. Tuas Penanaman
  10. Engine Device, bagian ini terdiri dari mesin yang berfungsi sebagai penggerak keseluruhan dari alat rice transplanter ini.

Mengoperasikan mesin tanam padi rice Transplanter

Sebelum mengoperasikan mesin tanam padi rice transplanter ada persyaratan lahan dan bibit yang harus dipenuhi, antara lain

Untuk lahan, syarat agar mesin tanam padi rice transplanter bekerja dengan baik adalah lahan dalam kondisi olah tanah sempurna atau melumpur sempurna.

Sedangkan untuk semaian, benih sebaiknya disemai pada tray bawaan mesin rice transplanter yang ukurannya  sudah pas dengan seedling tray di rice tranplanter. Adapun media yang dipakai dalam persemaian adalah tanah halus dicampur kompos dengan perbandingan 1 banding 1.

Pembuatan Semai padi untuk Rice Transplanter

Gunakan tray semai bawaan rice transplanter, setelahnya pada tray semai tersebut buat sekitar 2-3 cm untuk ketebalan media tanam. Setelah itu taburkan benih di atas media semai dengan prinsip serapat mungkin tetapi tidak bertumpuk. Setelah itu basahi tanah tersebut dengan sprayer agar posisi benih tidak bertaburan/berantakan dan rusak.

Benih yang siap tanam(dipindahkan) berkisar 15 – 20 hari semai atau secara fisik tinggi tanaman sekitar 15 cm.

Setelah syarat lahan dan bibit terpenuhi, maka proses penanaman bibit dengan rice transplanter dapat dilaksanakan. Adapun langkah mengoperasikan mesin tanam padi rice transplanter adalah sbb:

  1. Siapkan bibit di dalam tray dan rak yang tersedia pada rice transplanter
  2. Atur tuas hidrolik pada posisi sesuai dengan kedalaman lahan
  3. Atur Posisi tanda batas jarak tanaman pada rice transplanter untuk menandai jarak tanam antar baris tanaman.
  4. Nyalakan mesin, buat putaran mesin dikisaran 3100 – 3600 Rpm (pastikan posisi tuas utama pada posisi netral)
  5. Pindahkan tuas maju ke posisi “maju”
  6. Perlahan lahan tarik kopling / tuas utama ke posisi “on” untuk memulai pertanaman.
  7. Posisi operator berdiri tegak lurus memperhatikan “mascot” tengah agar hasil penanaman menjadi rapih dan baik
  8. Waktu yang dibutuhkan untuk menanam padi dengan luasan 1 Ha + 3 jam dengan tenaga kerja maximal 2 orang.

Demikian informasi tentang solusi tanam padi kekinian. Semoga tulisan ini dapat memberikan masukan kepada para petani dalam memecahkan masalah tanam padi yang tenaga kerjanya mulai berkurang, juga semoga tulisan  ini  dapat memberikan gambaran kepada kelompok tani yang sudah mendapatkan bantuan rice transplanter, tetapi belum dapat menggunakannya dengan alasan “sulit”, dan semogaa tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Ditulis Oleh,

Nama               : Pradoto Hutomo, SE, MM

NIP                   : 19790521 200912 1 001

Jabatan            : Widyaiswara Ahli  Muda

MENGGAGAS PERAN WIDYAISWARA LINGKUP BPPSDMP MENDUKUNG TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA 2,5 JUTA PENGUSAHA PERTANIAN MILENIAL

(BAHAN DISKUSI)

Oleh Ahmad Suryanto

(Widyaiwara BPP Lampung)

Dalam program aksi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian 2019-2024 telah ditetapkan bahwa salah satu capaian yang akan diraih hingga 2024 adalah menumbuhkembangkan 2,5 juta Pengusaha Pertanian Milenial. Jika di-breakdown, maka ditargetkan ada 500 ribu Pengusaha Pertanian Milenial yang harus “dicetak” dalam setahun melalui program BPPSDMP ini selama kurun waktu 2019-2024.

Di tengah stagnasi regenerasi pertanian, yang ditandai rendahnya minat generasi muda untuk terjun menjadi petani, program ini memberi angin segar yang sangat positif bagi kelangsungan masa depan pembangunan pertanian dan ketersediaan pangan. Hanya saja bagaimanakah secara operasional agar gagasan yang sangat luhur ini bisa berjalan dan terealisasi dengan baik? Ini yang semestinya dirumuskan dengan jelas.

Dalam bahan tayang yang sampai ke Penulis, pada kesempatan rapat di Mataram tanggal 6-8 Februari 2020, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian menyampakain bahwa Program “mencetak” pengusaha pertanian  milenial ini ini aka banyak direalisasikan melalui kegeiatan di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). Kata kunci yang bisa saya tarik benang merah dari gagasan Kepala Pusat Pelatihan tersebut adalah pada keberadaan P4S YANG TELAH MEMILIKI KOMODITAS UNGGULAN yang akan dijadikan role model dan sentral bagi pengembangan SDM Petani Milenial melalui pelatihan, permagangan, demplot, demfarm dll. Gagasan ini sangat masuk akal dan harus mendapat dukungan semua pihak.

Tulisan ini adalah sekedar gagasan pelengkap kiranya bisa menjadi tambahan masukan agar secara teknis gagasan mencetak generasi petani milenial yang sudah ditetapkan dalam angkanya sebesar 2,5 juta tersebut lebih operasional lagi.

PERAN BALAI PELATIHAN PERTANIAN DAN WIDYAISWARANYA

Jika kita ibaratkan Pasukan Perang, “Gugus tempur” utama di Pusat Pelatihan Pertanian adalah UPT Balai/Balai Besar Pelatihan Pertanian dengan Pasukan Intinya berupa personel Widyaiswara. Oleh karena itu dalam konteks mencetak Pengusaha Pertanian Milenial ini adalah sangat masuk akal jika UPT Balai/ Balai Besar Pelatihan dan Widyaiswaranya  bisa dikerahkan secara maksimal dalam “OPERASI MENCETAK PENGUSAHA PERTANIAN MILENIAL” ini.

Ada dua” jalur operasi” yang menurut saya bisa ditempuh untuk ini. Yang pertana adalah adalah “jalur optimalisasi pelatihan dan yang kedua adalah jalur bantuan startegis untuk P4S. Berikut penjelasannya:

  1. Jalur Operasi Optimalisasi Pelatihan

Jalur ini sebenarnya memanfaatkan kegiatan pelatihan yang memang sudah biasa dan rutin dilakukan di UPT Balai/ Balai Besar Pelatihan Pertanian. Bisa dikatakan ini sebenarnya jalur operasi konvensional karena memang selama ini sudah berjalan.

Hampir semua jenis pelatihan untuk non aparatur (petani) bisa dimanfaatkan untuk tujuan operasi mencapai angka 2,5 juta pengusaha pertanian milenial ini. Sekedar ilustrasi, Pelatihan Sayuran Organik misalnya, pelatihan ini sebenarnya secara riil akan bisa melahirkan alumni petani muda pengusaha sayuran organik jika proses Pra dan Pasca pelatihannya bisa dikelola dan diarahkan dengan baik.

Dalam pandangan penulis, selama ini proses pelatihan berjalan sudah berlangsung baik. Hanya saja out come atau imbal hasil yang diharapkan pasca pelatihan memang hampir tak mendapatkan porsi perhatian yang layak: perkembangan alumi pelatihan setelah mendapat pembekalan kompetensi di Balai/ Balai Besar Pelatihan tidak termonitor dengan baik. Akibatnya dampak dan manfaat pelatihan yang selama ini telah dilaksanakan di lapangan menjadi tak terukur. Ke depan hal seperti ini tidak boleh terulang, apalagi ke depan pelatihan pertanian yang dilaksanakan di Balai/ Balai Besar Pertanian sangat diharapkan bisa ikut menyuplai angka di antara 2,5 juta Pengusaha Pertanian Milenial yang akan dicetak.

Dalam konteks ikut andil menyulai angka Pengusaha Pertanian Milenial melali jalur pelatihan, langkah-langkah berikut barangkali layak untuk ditempuh:

  1. Tentukan pelatihan apa saja yang akan di-plot untuk mencetak Pengusaha Pertanian Milenial.

Dari seluruh pelatihan yang sudah direncanakan setiap tahun anggaran, semestinya ada beberapa belatihan yang memang fokus dirancang untuk mencetak Pengusaha Pertanian Milenial. Misalnya saja: Pelatihan Kewirausahan untuk Pemuda Tani, Pelatihan Hidroponik, Pelatihan Sayuran Organik, dll.

  1. Untuk mematikan peserta tepat sasaran, dimana indikatornya diantaranya muda dan memiliki minat tinggi untuk menjadi pengusaha agribisnis, dan familiar dengag dunia IT, maka pendaftaran harus di-open secara on line. Jadi peserta daftar sendiri, bukan disuruh-suruh olah orang lain atau “suruhan” pihak Dinas Kabupaten. Jadi peserta mendaftar karena “ingin belajar”.

Dalam kaitan ini, sosialisasi hendaknya gencar dilakukan lewat media sosial baik Facebook, Twiter maupun Instagram yang dimiliki UPT Balai/Balai Besar Pelatihan Pertanian.

  1. Kurikulum Pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga aspek-aspek skill pengusaha atau kewirausahaan tercover seperti skill penjualan (digital marketing), analisa usaha, negosiasi dll. Meskipun pelatihan yang dilaksanakan merupakan Diklat Teknis, dalam porsi tertentu materi-meteri skill tersebut harus diberikan.
  2. Pada semua pelatihan yang telah ditetapkan sebagai pelatihan untuk mencetak Pengusaha Milenial Agribisnis peserta hendaknya diwajibkan menyusun RENCANA BISNIS (BUSINESS PLAN), baik baru atau pengembangan, sebagai dasar bagi pembinaan lebih lanjut pasca pelatihan.
  3. Pembinaan lebih lanjut yang dimaksudkan di sini adalah berupa Inkubasi Usaha pada Inkubator Agribisnis di UPT Balai Pelatihan. Widyaiswara penanggungjawab akademis pada setiap pelatihan hendaknya diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan inkubasi kepada para alumni pelatihan ini, baik secara tim dengan dengan melibatkan widyaiswara lain atau dengan tim tenaga teknis selain Widyaiswara.

Ini poin pentingnya, peran widyaiswara sebagai konsultan dalam Inkubator agribisnis harus dihidupkan. Bahkan semestinya setiap Widyaiswara wajib sifatnya menginkubasi sejumlah calon pengusaha pertanian muda milenial. Jadi jelas, jika dari proses inkubasi ini bisa “pecah telor” lahir Pengusaha Pertanian Milenial baru, akan terlihat sumbangsih UPT Balai Pelatihan dan Widyiswara pada angka pada  capaian 2,5 juta Pengusaha Pertanian Milenial yang direncanakan.

Dalam konteks menghidupkan Inkubator Agribisnis, SDM Widyaiswara maupun sarana pendukung di UPT Balai Petaihan haruslah dipersiapkan dengan baik.

  1. Dalam proses inkubasi di bawah bimbingan widyaiswara, calon petani pengusaha muda harus dipastikan mampu melakukan desain produk hingga layak pasa (market able). Mereka juga harus melakukan uji coba pasar hingga usaha mereka terlihat prospeknya. Selanjutnya mereka juga perlu dibimbing untuk membuat rencana scale up usaha dimana di dalamnya termasuk bagaimana mencari modal, merancang sistem dan alat prduksi, membuat rencana pasar dan lain sebagainya.
  2. Setelah mereka dinilai mampu untuk mandiri baru dilepas. Proses inkubasi bisa diplot dalam jangka waktu tertentu, misalnya 6 bulan hingga 1 tahun.

  1. Jalur Operasi P4S

 

Jalur operasi P4S untuk mencetak Pengusaha Pertanian Milenial sebenarnya sudah cukup gamblang disampaikan Kepala Pusat Pelatihan melalui paparannya beberapa waktu lalu (meskipun penulis tidak ikut rapat, pati ikut membaca bahan tayang yang dibuat)

  • pada intinya adalah bagaimana P4S mampu memiliki produk unggulan dan sistem usaha yang baik sehingga layak menjadi percontohan bagi Calon Pengusaha Pertanian Milenial. P4S ini didorong bisa memerankan diri sebagai tempat pembelajaran bagi Calon Pengusaha Pertanian Milenial melalui pelatihan, permagangan, bahkan sebagai mitra “Bapak Angkat” bagi produk para “new comer” pengusaha pertanian milenial ini.
  • Bagi P4S yang sudah mapan semestinya mereka terus memperbesar skala pasar mereka. Dalam kondisi seperti ini mereka tentu membutuhkan mitra produsen sebagai pemasok. Di sinilah titik temu antara new comer dan “Bapak Angkat” tadi.
  • Dalam konteks agar pelatihan dan permagangan bisa berlangsung dalam kaidah pembelajaran yang baik, maka UPT Balai Pelatiahan hendaknya menugaskan secara khusus kepada para Widyaiswara sebagai pendamping P4S yang selama ini memang sudah teregistrasi dan terklasifikasi.
  • Pendampingan yang dimaksud dalam hal ini adalah dalam hubungannya menyusun kurikulum, metodologi pembelajaran, serta evaluasi pelatihan. Melalui pendampingan akan juga termonitor hasil-hasil angka jumlah Pengusaha Pertanian Milenial yang telah bisa dihasilkan dari jalur P4S.
  • Dalam hubungan ini Widyaiswara bisa mendampingi beberapa P4S.

Wallahu a’lam

                                                                               

               

Balai Pelatihan Pertanian Hajimena, 20 Februari 2020

Ahmad Suryanto

NB: Naskah disegarkan kemballi pada 4 Mei 2021

INOVASI TEKNOLOGI FRONTIER DAN  TRANSFORMASI DIGITAL 4.0 UNTUK PERTANIAN INDONESIA MASA DEPAN

Septiana, S.P., M.P

Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Lampung-BPPSDM Kementan

Email : sevtie182020@gmail.com

Selama manusia tetap makan, maka selama itu pula pertanian terutama pangan tetap dibutuhkan. Dengan menggunakan teori  Robert Malthus yang dicetuskan pada abad ke-17 an, telah terbukti dimana “laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung”, yang artinya laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan. Bila dilihat dari rumus eksponensial, apabila laju Pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1 persen saja, maka penduduk akan menjadi dua kali lipat atau “double population”, akan terjadi dalam kurun waktu 70 tahun. Dari simulasi diatas, ini berarti apabila sekarang jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa, maka pada tahun 2090-an  akan menjadi 500 juta jiwa.

Dalam jangka panjang, dampak yang akan timbul adalah manusia akan mengalami krisis sumber daya alam dan berebut untuk mendapatkan pangan.  Indonesia sebagai negara agraris, cukup ironis karena ketergantungan bahan pangan kepada negara lain cukup tinggi.   Beras, jagung,  kedelai, tepung terigu, gula pasir, garam, bawang, daging sapi, daging ayam masih impor. Antara tahun 2005 – 2015 saja, impor produk pertanian meningkat 4 (empat) kali lipat (BPS, 2019). Peningkatan jumlah import pangan yang tinggi  ini berarti menguras cadangan devisa juga bisa menimbulkan dampak melumpuhkan ketahanan nasional dan mengganggu stabilitas sosial, ekonomi serta politik, karena ketahanan pangan dan kedaulatan pangan berpengaruh langsung pada kesejahteraan rakyat (Rasahan, 1999).

Persaingan dengan kepentingan lain, seperti  “Food dengan feed”, persaingan pemanfaatan air, persaingan kebutuhan lahan sehingga mengakibatkan konversi lahan pertanian termasuk yang beririgasi teknis, terus berlanjut dan semakin tajam. Sementara itu, perubahan iklim, degradasi kualitas lahan, berkembangnya hama dan penyakit tanaman, rendahnya produktivitas, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia pertanian juga merupakan tantangan yang harus diselesaikan.

Untuk menjawab tantangan diatas,  kata yang paling tepat untuk menyelesaikannya adalah dengan “teknologi” yang betul-betul dapat  bermanfaat  bagi masyarakat.  Mengacu  kepada  negara-negara  maju  dalam  ilmu  pengetahuan,  ternyata maju juga dalam teknologi pertaniannya.  Beberapa negara Eropa telah mensepakati bahwa   Pertanian 4.0 sebagai  arah industri pertanian ke depan dengan  agenda utamanya adalah transformasi digital di sektor pertanian yang mengerucut pada pertanian pintar (smart farming), termasuk didalamnya smart city agriculture dengan memanfaatkan  cyber city  sehingga dapat mengacu pada pertanian terukur (precision farming) serta bioteknologi (gene editig) (Fatchiya A, Siti A, Yatri, 2016).

Ruang lingkup dari pertanian 4.0 adalah  semua aktivitas pertanian, mulai dari proses produksi sampai pada pemasaran hasilnya. Tujuannya adalah   untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, berkelanjutan dan tentu untuk mensejahterakan petani  juga masyarakat secara keseluruhan. Teknologi yang dibutuhkan saat ini adalah “Teknologi Frontier” yang secara umum disebutkan sebagai: “the next phase in the evolution of modern technology. Frontier technology is the intersection where radical forward thinking and real-world implementation meet”. Menarik untuk digaris bawahi bahwa teknologi tersebut haruslah  “radical word  thinking  and  real-world  implementation  meet”,  yang  artinya  adalah  cara berfikir untuk menghasilkan teknologi harus bersifat “revolusioner”  yang betul-betul dapat  bermanfaat  bagi masyarakat.  Teknologi Frontier pertanian 4.0 yang saat ini dapat dikembangkan secara revolusioner dan “canggih” seperti big data analitis, artificial intelligence (AI), teknologi robotic dan sensor, drone, blockchain, artificial intelligent, maupun IoT (internet of things) (Andi Suwardi, 2019).

Penggunaan teknologi frontier ini dapat mulai dari aspek yang terkait dengan tanamannya sendiri (termasuk rekayasa genetika), lahan, air, iklim, hama, proses pengolahan, perawatan, panen, pasca   panen,   pasar,   pemasaran,   perdagangan,  harga  dsb.   Dengan  kehadiran teknologi digital, kesemuanya bisa diprogramkan dengan tingkat akurasi tinggi, hasilnya dapat diprediksi dan diantisipasi misalnya dengan menggunakan dron pemetaan wilayah pertanian, sensor program pengairan yang keseluruhannya dikendalikan dengan menggunakan internet of thing.

Ada beberapa hal  berkaitan dengan teknologi 4.0 dalam dunia pertanian, pertama; bila disandingkan dengan  luar negeri, penggunaan teknologi pertanian 4.0 ini bisa lebih efektif karena lahan usaha taninya luas, atau  yang sudah umum melakukannya adalah perusahaan-perusahaan pertanian. Karena lingkupnya yang luas, oprasionalisasi dari teknologi ini juga sangat luas dan tidak semuanya bisa dioprasionalkan oleh petani. Sebagai contoh, pemanfaatan GPS untuk mengetahui lokasi daerah produksi pertanian/pemetaan lahan,   status kepemilikan lahan, prediksi hasil panen, prediksi harga, prediksi serangan hama itu merupakan  bagian-bagian yang  harus  dilakukan  oleh pemerintah.

Kedua; siapakah yang akan menghasilkan teknologi tersebut? Untuk kepentingan yang bersifat fasilitasi   maka pemerintahlah yang harus menyiapkan teknologi ini. Dewasa ini, memang sudah banyak lembaga swasta yang memproduksi teknologi dimaksud. Hanya saja, apabila swasta, tentu orientasinya adalah keuntungan. Bagi para petani, penggunaan teknologi  ini akan menjadi tambahan biaya  produksi.  Karena  itu,  diperlukan  perhitungan  ekonomi,  dalam  pengertian bahwa dengan bantuan teknologi, petani akan jauh  lebih sejahtera. Demikian pula para konsumen, harus juga lebih diuntungkan, misalnya lebih terjamin kualitas dan harganya. Pemerintah juga perlu mendorong inovasi terukur dalam hal regulasi dan pajak sembari secara aktif mendukung model bisnis yang lebih bermanfaat bagi petani.

Ketiga; sumber informasi. Karena teknologi ini bisa menyebar ke dunia tanpa batas, apakah bisa dikontrol akurasinya?  Selama ini, dunia  media  sosial ditandai dengan  merebaknya  “hoax“.  Karena  informasi  yang  berkaitan  langsung  dengan dunia pertanian belum besar, maka hoax dalam bidang pertanian belum sebesar hoax untuk bidang lain. Tapi apabila itu terjadi dampaknya akan besar. Untuk itu, diperlukan lembaga yang bisa melakukan pengontrolan terhadap “teknologi” yang disebarkan. Sumber-sumber pengetahuan dan teknologi, seperti Whatsapp, Wechat, Facebook, Instagram, dan Twitter, Youtube, dan lain sebagainya.

Keempat; Peluang yang bisa didapatkan dengan inovasi teknologi secara frontier di era revolusi 4.0 dalam bidang pertanian berupa kemajuan dalam analisis data, bioteknologi dan informasi komunikasi meningkatkan hasil pertanian dan penyaluran logistik yang lebih efisien dalam menghantarkan produk pertanian ke pasar. Selain itu inovasi teknologi yang berkembang juga dapat dimanfaatkan dalam menghubungkan sektor informal ke sektor ekonomi formal berupa platform digital untuk berbagai layanan yang kini sudah bisa  dilakukan  di tingkat  petani, seperti TaniHub dan Sayurbox dalam bidang E-Commerce (jual beli), PanenID dalam Direct trading (penjualan langsung), iGrow yang mengaitkan antara investor pertanian dengan petani dan   Teknologi   Question   & Answer. Teknologi lainnya, banyak yang lebih cocok (dan diantaranya sudah diaplikasikan) di perusahaan-perusahaan “besar” pertanian.

Secara kemampuan, masyarakat Indonesia pasti siap dengan penciptaan dan pemanfaatan transformasi digital dan inovasi teknologi frontier ini, dimana sebagian besar masyarakat  tersebut sudah berubah mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepet berkembang. Perubahan mindset ini harus segera di anulir pada semua lini sumber daya manusia pertanian yang menjadi faktor penentu keberhasilan dunia pertanian dalam menghasilkan pangan dunia.

Untuk menganulir perubahan mindset dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, khususnya generasi muda pertanian yang diharapkan dapat menjadi pelaku utama dalam dunia pertanian serta dapat memiliki posisi tawar, Badan Penyuluhan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementrian Pertanian melalui UPT Balai Pelatihan Pertanian Lampung melaksanakan Pelatihan Presisi Smart Greenhouse-Low Cost di danai dari Proyek IPDMP yang diperuntukan bagi petani muda yang ada di daerah proyek IPDMIP di Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Tengah, Pesawaran dan Tanggamus. Pelatihan ini mengajarkan tentang penggunaan dan pamanfaatan IoT pada lahan pertanian dimana untuk alat serta bahan yang digunakan identik cukup murah, terjangkau serta mudah didapatkan oleh petani. Pada Pelatihan Presisi Smart Greenhouse-Low Cost IoT dimanfaatkan untuk mengontrol suhu, kelembaban, cahaya serta pengairan bagi budidaya tanaman yang dapat dikontrol melalui smartphone.

 

Foto-Foto Kegiatan Pelatihan Presisi Smart Greenhouse-Low Cost di Balai Pelatihan Pertanian Lampung

Dalam bidang pertanian, jangan sampai teknologi ini hanya dikuasai oleh segelintir orang, sebagai   contoh;   kalaupun produktifitas tinggi, pasar dan harga sudah transparan seperti sekarang ini, namun nyatanya  masih  banyak  petani  yang  tidak  bisa  menikmatinya.  Bisa  jadi,  ada kekuatan-kekuatan lain yang bermain yang mungkin juga termasuk yang lebih memanfaatkan  kecanggihan  teknologi  untuk  kepentingan  mereka.  Ketidak berpihakan  ini termasuk dalam  bentuk  kebijakan  terhadap  para  petani  yang walaupun sudah berteknologi tinggi namun tidak mempunyai bargaining position atau  posisi tawar terhadap kekuatan-kekuatan di luarnya, akan tetap saja membuat mereka terpuruk, dan inilah yang masih menjadi pe er besar bagi pemerintah. Sistem pengalihan teknologi dari tradisional menjadi modern dalam pengelolaan pertanian belum mampu diterima secara luas oleh para petani yang masih banyak memilih menggunakan peralatan tradisional dibanding peralatan teknologi canggih (Roger, 2003). Selain karena keterbatasan biaya, keterbatasan pengetahuan juga menjadi faktor yang menghambat laju teknologi untuk merambah sektor pertanian secara luas.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  

Andi Suwardi. 2019. Era Transformasi Digital dan Sumber Daya Manusia. Kompasiana. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2019. Persentase Tenaga Kerja Informal Sektor Pertanian 2015-2018. BPS. Jakarta.

Fatchiya Anna, Siti Amanah, Yatri IK. 2016. Penerapan Inovasi Teknologi Pertanian dan Hubungannya dengan Keetahanan Pangan Rumah Tangga Petani. Jurnal Penyuluhan, September 2016 Vol.12 No.2. 24/9/2019

Rasahan, CA. 1999. Kebijakan Pembangunan Pertanian Untuk Mencapai Ketahanan Pangan Berkelanjutan. Dalam: Tonggak Kemajuan Teknologi ProduksiTanaman Pangan. Konsep dan Strategi Peningkatan Produksi Pangan. Puslitbang Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Hal 1-11.

Rogers EM. 2003. Diffusion of Innovations. Fifth Edition.The Free Press. A Division of Simon & Schuster, Inc. 1230 Avenue of The Americas New York. NY 10020.

BANDAR LAMPUNG – Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Lampung memanfaatkan program READSI untuk memastikan ketersediaan pangan . Caranya, dengan melakukan Pelatihan Peningkatan Nilai Tambah. Pelatihan ini mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) .

“Kita harus pastikan ketersediaan pangan jangan sampai kendor. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian mendorong kerjasama dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah untuk mendukung kegiatan pertanian. Pertanian Indonesia tidak boleh melemah. Terutama di masa Pandemi yang kini sedang melanda negara kita,” tutur Mentan SYL.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSMDP) Kementan, Dedi Nursyamsi.

“Pertanian harus terus memastikan ketersediaan pangan nasional. Oleh karena itu, penyuluh dan petani harus terus turun ke lapangan untuk memastikan produksi pertanian terus berlangsung,” katanya.

Sementara Kepala Lampung, Abdul Roni Angkat, mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk memaksimalkan kegiatan Rural Empowerment Agricultural and Development Scalling Up (READSI).

“Hal ini dibuktikan BPP Lampung dalam melaksanakan Pelatihan Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Pertanian Program READSI yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia,” tuturnya.

Pelatihan yang dilaksanakan 28-30 Juni 2021, dilakukan secara online atau virtual. Pelatihan terselenggara atas kerjasama Balai Pelatihan Pertanian Lampung dengan Pusat Pelatihan Pertanian – Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian.Pelatihan diikuti oleh 32 orang peserta yang merupakan penyuluh pertanian. Peserta berasal dari 6 (enam) provinsi yaitu Gorontalo, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Pelatihan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman dan motivasi peserta untuk mengencourage petani dalam meningkatkan pengetahuan dan motivasi petani binaannya dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pertaniannya yang dimulai dari pengolahan, pengemasan, perizinan hingga pemasaran secara mandiri.

Buka Chat
Butuh Bantuan?
Hallo
Selamat Datang di BPP Lampung
Ada yang bisa Kami bantu ?